Begitu melintas di wilayah lumpur lapindo, kereta memperlambat laju kecepatannya. Tidak ada bedanya seperti kita berjalan kaki. Rel sudah tergenang aliran Lumpur yang menyeruak keluar. Timbunan tanah semakin hari semakin tinggi saja, entah tanah dari mana yang diambil. Itu tidak penting, yang penting Lumpur tidak jebol. Mungkin itu pikiran pemerintah sekarang.
Tetapi bisa kita bayangkan, lama kelamaantumpukan tanah itu akan semakin tinggi, bahkan melampaui bangunan yang ada tepat didepannya.
Tanah mulai retak tak wajar, membentuk layaknya ukiran yang didesain alam. Mongering sejenak, basah terlalu lama. Pohon-pohon dulunya hijau sekarang bak musim dingin di Eropa. Ranting mulai sendirian, daun entah kemana. Tapi ini lain, ini bukan karena musim yang terlalu dingin. Tanah tempatnya berpijaksudah terkontaminasi lumpuryang mengandung minyak merusak. Dan panasnya udara sekitar membuat pepohonan mongering. Lahan pertanian yang dulu hijau dan menyejukkan mata, sekarang menjadi tempat mengerikan yang tak lagi ada kehidupan.
Rumah-rumah tak berpenghuni lagi. Tak lagi berlantai keramik karena tertutup aliran Lumpur. Puing-puing runtuhan bata bercecer tanda tak ada lagi harapan untuk kehidupan. Para tetua menangis mencari kepedulian, remaja memberontak menuntut kejelasan. Ganti rugi tinggal 80 persen pun belum juga terselesaikan.
Mereka (para korban) memang berhak berunjuk rasa, mereka memang berhak menuntut. Tetapi apakah mereka harus melakukan itu? Bukankah itu tanggung jawab sang pelaku? Seharusnya sebelum para korban melakukan unjuk rasa, pelaku sudah mengambil langkah sebagai rasa tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Bukan malah menentang para pengunjuk rasa dan membuat masalah ini berlalu.
Ini bukan masalah sepele, bukan lagi manusianya yang terancam. Daerah lainpun terancam. Jalur utama kereta api yang menghubungkan kawasan timur seperti Banyuwangi, Jember, Lumajang, ke Surabaya harus berjam-jam. Bahkan ketika Lumpur jebol, kereta api dari Banyuwangi harus muterlewat Malang. Kendaraan bermotor pun harus rela antre puluhan kilometer hanya untuk menuju kota nomor dua terbesar setelah Jakarta. Kalau begini, apakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan akan meningkat?
Kepulan asap mengembul ke angkasa, Lumpur menyembur di antaranya. Kapankah hal itu berhenti? Timbunan tanah mungkin masih harus dipertinggi melebihi puncak Gunung Semeru. Mungkin juga Porong akan menjadi sebuah danau, bahkan kategori danau Lumpur terbesar se-Asia bahkan sedunia yang belum pernah ada sebelumnya. Semoga saja tida.
Rabu, 06/02/2008
Rip-Q

Recent comments